Bergabunglah di grup telegram Urie Join now

Gulir Tak Terbatas yang Bikin Otak Mumet

Infinite scroll sudah menjadi candu pada gue, bahkan yang niat awalnya untuk mengusir rasa bosan malah berbalik menjadi sebab otak gue jadi mumet.

Setiap kali gue buka layar ponsel niat awalnya adalah untuk mencari infomasi atau sekadar hiburan, tetapi praktiknya gue selalu bablas masuk kedalam jurang gulir tak terbatas. Pada akhirnya informasi yang gue cari hilang tertimbun ribuan informasi tak penting, atau hiburan yang gue cari hilang berganti mumet di kepala.

Gulir Tak Terbatas yang Bikin Otak Mumet

Gulir Tak Terbatas yang Bikin Otak Mumet

Ah! Scroll Lagi, Scroll Terus !

Ada alasan kenapa kita tetap menggulir meskipun sebagian besar video yang muncul sebenarnya biasa saja. Karena kita tidak tahu apa yang akan muncul berikutnya. Munkin video lucu, mungkin video menarik, mungkin mengejutkan, mungkin sangat relevan dengan hidup kita, mungkin juga membosankan.

Kita tidak tahu.

Dan justru ketidakpastian itulah yang membuat kita terus mencoba gulir.

Psikolog B. F. Skinner menemukan fenomena menarik ketika mempelajari perilaku melalui eksperimen operant conditioning.

Ketika hadiah diberikan secara tidak menentu—bukan setiap kali perilaku dilakukan—perilaku tersebut justru dapat sangat sulit dihentikan.

Pola ini dikenal sebagai variable ratio reinforcement.

Sederhananya begini, kalau lo setiap kali mencapai target pemasaran akan mendapatkan hadiah, lo akan bisa memperhitungkannya. Tetapi kalau hadiahnya tidak bisa diprediksi, lo akan terus mencoba.

Mungkin percobaan berikutnya berhasil. Mungkin juga tidak. Dicoba lagi.

Begitulah kurang lebih mekanisme yang membuat infinite scroll terasa sulit dihentikan. Lo tidak tahu kapan akan menemukan sesuatu yang menarik. Karenanya lo terus menggulir.

Google Kok Tahu Gue Lagi Pengen Ini!

Lebih menarik sekaligus menakutkan untuk dipikirkan adalah bahwa ketika kita terus menggulir bukan hanya kita yang belajar tentang konten, tetapi algoritma juga sedang belajar tentang kita. Bagi kita mungkin hanya sekedar menggulir video tetapi dari sudut pandang sistem kita sedang memberikan banyak sekali informasi.

Video mana yang kita tonton sampai dengan selesai, video mana yang hanya setengah ditonton, video mana yang langsung di skip, video mana yang diputar berulang kali, berapa lama kita berhenti, apa yang kita cari, apa yang kita sukai, apa yang kita komentari.

Semua itu menjadi sinyal yang kemudian oleh algoritma diolah menjadi informasi sehingga ia tahu “orang ini tertarik dengan topik tersebut” kemudian ia memberikan lebih banyak konten serupa. Semakin lama kita memberikan informasi semakin tepat algoritma merekomendasikan sesuatu kepada kita.

Dalam The Age of Surveillance Capitalism, Shoshana Zuboff menjelasakan bagaimana perusahaan teknologi dapat mengubah pengalaman dan perilaku manusia menjadi sumber data untuk menghasilkan prediksi tentang perilaku di masa depan.

Kepala Gue udah Bosan dan Mumet Tapi Scroll Terus Lanjut

Di sinilah otak mulai mumet, karena setelah scrolling lama seringkali yang gue rasakan bukan kepuasan, bukan juga bahagia. Melainkan mumet.

Kepala terasa penuh, sulit berkonsentrasi. Mau mengerjakan sesuatu terasa berat.

Padahal tadinya gue cuma mau duduk. Tidak mengangkat barangm tidak push-up, tidak lari maraton, tapi pikiran seperti habis dipakai seharian. Gue rasa itu karena sejam tadi gue terus berpindah-pindah dari satu informasi ke informasi lainnya tanpa pernah benar-benar memberi kesempatan kepada pikiran untuk istirahat.

Video, komentar, musik, iklan, meme, video lagi, whatsapp. Semuanya dilihat, semuanya datang, semuanya pergi. Tetapi tidak semuanya sempat diproses

Kebiasaan Mengisi Waktu Kosong (Jeda) dengan Scroll Internet

Semua itu berawal dari waktu kosong singkat yang diisi dengan membuka layar ponsel di tempat kerja lalu bergulis di internet. Tidak lama, kadang cuma lima detika, sepuluh detik, lima belas detik. Tidak lama.

Tapi entah bagaimana tangan selalu refleks membuka satu aplikasi, buka browser, swep video lainnya. Sampai-sampai informasi yang tadinya di cari tertimbun ratusan informasi tak penting lainnya.

Informasi yang kita inginkan mungkin masih bisa dicari, tetapi kondisi otak yang penuh dengan konten-konten terasa berat dan mumet butuh banyak waktu untuk dikembalikan dan dalam aktivitas sedang bekerja atau belajar ini menjadi kondisi yang sangat merugikan bagi gue.

Pekerjaan bisa delay, pelajaran tidak bisa masuk otak, dan fokus menghilang.

Itulah akibatnya ketika gue terbiasa mengisi waktu jeda dengan scroll internet.

Epilog, Belajar Tidak Scroll agar Otak Terasa Ringan

Setelah memahami cara kerja gulir tak terbatas, gue akhirnya mengerti kenapa fitur sederhana ini terasa begitu sulit dihentikan. Bukan karena kita bodoh atau lemah bukan juga karena kita tidak disiplin. Kita sedang berhadapan dengan kombinasi yang sangat kuat.

Konten tanpa batas + hadiah yang tidak bisa diprediksi + algoritma yang semakin memahami diri kita dan kebiasaan manusia yang mudah terbentuk.

Tapi memahami mekanismenya memberi kita satu hal penting: Kesadaran.

Dengan kesadaran, kita bisa memilih: Memilih untuk membuka aplikasi dengan sebuah tujuan, memilih berhenti jika tujuan itu sudah tercapai, memilih mematikan notifikasi, memilih manjauhkan aplikasi dari halaman utama, dan memilih untuk tidak menggulir ketika waktunya beristirahat.

Referensi:
  1. Skinner, B. F. (1953). Science and Human Behavior. Macmillan.
  2. Zuboff, S. (2019). The Age of Surveillance Capitalism. PublicAffairs.
  3. Newport, C. (2019). Digital Minimalism: Choosing a Focused Life in a Noisy World. Portfolio.
Penulis Uriepedia yang mengulas kesehatan mental, krisis identitas, dan pengembangan diri dengan pendekatan psikologi & filsafat.