Digital Minimalism: Kita Sudah Lupa Cara Menunggu
Kita sebetulnya tidak kehilangan waktu ketika sedikit diam menunggu, tapi justru kita telah kehilangan fokus ketika setiap jeda diisi dengan bermain ponsel.
The more distracted we become, the more we lose the capacity to be present — Johann Hari (Stolen Focus)
Seperti kata pak Johann, hari ini kita telah kehilangan kemampuan untuk hadir pada momen saat ini, kita telah kehilangan fokus dan perhatian yang disebabkan oleh distraksi-distraksi yang sering kita lakukan saat melakukan suatu pekerjaan bahkan saat sedang ada waktu luang; distraksi itu bernama handphone.
Digital Minimalism, Kita Sudah Lupa Cara Menunggu
Jeda yang Hampir Hilang
Siang itu bos marahin gue karena tidak ingat hasil produksi barang sudah sampai mana padahal tiap hari gue berkecimpung dengan data produksi. Akhirnya dalam sehari gue harus ngecek dua sampai tiga kali data yang padahal tidak berselang lama gue input.
Itu membuat gue marah, bukan omelan si bos tetapi kenyatan bahwa gue cepet lupa dan tidak fokus saat melakukan pekerjaan, saat gue cari di mana letak masalahnya gue sadar itu adalah sesuatu yang bikin merinding, suatu kebiasaan yang selama ini kuanggap sepele dan tak pernah terpikirkan akibatnya—yaitu main handphone saat bosan, saat menunggu sesuatu, saat ada jeda waktu bahkan ketika itu hanya menunggu loading komputer selama sepuluh detik.
Awalnya gue menganggap sedikit waktu saat menunggu lebih baik diisi dengan suatu aktivitas yang produktif seperti membaca artikel atau sekadar menonton video dengan tujuan hiburan daripada melamun. Tetapi nyatanya itu hal yang keliru, justru itulah penyakit dari hilangnya fokus.
Seperti yang dikatakan oleh Harmut Rosa
"Acceleration changes not only what we do, but how we experience life."
Modernitas telah membuat kita selalu merasa harus bergerak lebih cepat, lebih hebat, dan lebih dari siapapun. Akibatnya kita merasa bahwa setiap waktu luang yang digunakan untuk sekadar melamun adalah pemborosan, tidak produktif dan membuang-buang waktu.
Padahal justru saat waktu jeda, saat waktu melamun, saat waktu menunggu digunakan untuk scrolling reels atau menonton video shorts, saat itulah otak kebanjiran pekerjaan hingga tidak ada lagi ruang hening, tidak ada lagi ruang jeda bagi kita untuk sekadar melamun dan mengistirahatkan pikiran.
Rasa Bosan yang Tak Sadar Dihindari
Saat menunggu file excel terbuka, saat menuggu printer mencetak dokumen rasanya sangat membosankan sayang sekali dilewatkan tanpa membuka ponsel meskipun itu hanya sepuluh sampai dua puluh detik. Seakan rasa bosan adalah hal yang gue hindarin hingga tangan refleks membuka ponsel—padahal bosan adalah sinyal otak sedang ingin melakukan sesuatu yang lebih fokus. Dan kalau ditarik lebih jauh, refleks ini sebenarnya bukan cuma soal menghindari bosan, tapi menghindari perasaan tidak nyaman secara umum.
Lalu mengapa rasa bosan terasa begitu tidak nyaman? sejak kapan kita menganggap rasa bosan adalah musuh? setelah berpikir sejenak mungkin sejak sekolah gue diajarin bahwa belajar, bekerja, berolahraga, memebaca buku, menonton film, mendengarkan podcast atau mencari hiburan adalah kebajikan. Sebaliknya tidak melakukan apapun seringkali dianggap membuang waktu.
Tanpa sadar, kita tumbuh dengan keyakinan bahwa setiap waktu luang harus diisi.
Padahal mungkin yang gue hindari bukanlah kebosanan itu sendiri tetapi apa yang muncul ketika semua distraksi menghilang.
Filsuf Blaise Pascal pernah menulis sebuah kalimat yang tetap relevan meski telah berusia lebih dari tiga abad:
"All of humanity's problems stem from man's inability to sit quietly in a room alone." —Blaise Pascal, Pensées
Meski terdengar hiperbola tetapi setelah gue pikirin rasanya ada benarnya bahwa ketika kita duduk diam tanpa melakukan apa pun, tanpa ada distraksi dari handphone yang tersisa adalah suara pikiran diri sendiri dan sering kali pikiran itu tidak selalu menyenangkan.
Ia kadang mengingatkan pekerjaan yang belum selesai, tentang hubungan yang mulai renggang, impian yang terus ditunda, atau kecemasan yang selama ini berhasil ditenggelamkan oleh konten-konten media sosial yang tiada akhir.
Konten-konten itu telah berhasil mengisi setiap ruang jeda yang harusnya kita miliki. Setiap kali ada jeda kita refleks membuka handphone melihat video lucu, berita politik, foto liburan dan seterusnya tiada henti sampai-sampai tiada lagi kesempatan bagi kebosanan untuk tumbuh karena selalu ada hal yang siap mengusirnya.
Lama-kelamaan, otak belajar sebuah pola baru—setiap kali rasa bosan muncul kita refleks mencari stimulasi—setiap kali muncul lamunan kita buka layar—setiap kali pikiran mulai mengembara kita mengalihkannya ke handphone.
Dari sini kita tanpa sadar menghindari rasa bosan, semakin sering kita melakukan itu, semakin rendah pula toleransi kita terhadap kebosanan. Akibatnya sedikit jeda saja sudah terasa mengganggu, beberapa detik tanpa hiburan sudah terasa terlalu lama.
Padahal bosan bukanlah kekurangan, bukan kecacatan yang harus diperbaiki. Justru ia adalah sinyal yang memberi tahu kita bahwa pikiran kita sedang membutuhkan arah baru, rasa bosan dapat menjadi pintu masuk menuju rasa ingin tahu, kreativitas, atau bahkan refleksi diri jika kita tidak kesusu menutupnya dengan distraksi dari hp.
Mungkin inilah kesalahpaman terbesar kita terhadap rasa bosan. Kita mengira bosan adalah akhir dari sesutau padahal ia sering kali merupakan awal, awal dari sebuah ide, awal dari percakapan dengan diri sendiri, awal dari keberanian unutk bertanya apakah hidup kita sudah sesuai dengan yang kita inginkan.
Otak Butuh Keheningan
Gue akhirnya mengerti bahwa otak kita butuh kesunyian ketika otak tidak dipakai untuk menerima segala informasi dan konten entah mengapa ide-ide terbaik justru datang saat aku sedang melamun, saat sedang berjalan santai, bahkan saat sedang asik mandi. Seolah ketika gue berhenti memaksa otak untuk bekerja justru saat itulah ia mulai bekerja dengan caranya sendiri.
Ternyata itu bukan kebetulan para ilmuan menyebutnya sebagai Default Mode Network, sebuah jaringan area otak yang menjadi aktif ketika kita tifak sedang fokus pada tugas tertentu. Artinya otak tidak benar-benar berhenti saat kita melamun, ia hanya mengalihkan pekerjaannya.
Neurolog Marcus Raichle merupakan salah satu tokoh yang memperkenalkan konsep DMN ini, bahwa ketika perhatian kita tidak lagi dipakai oleh dunia luar, otak mulai melakukan pekerjaan yang jauh lebih sunyi dan sangat penting di dalam. Ia menghubungkan kenangan, menyusun pengalaman, membayangkan masa depan, mengevaluasi keputusan, hingga membantu kita memahami diri sendiri.
Dengan kata lain diam bukan berarti otak berhenti bekerja. Justru dalam diam otak sedang melakukan pekerjaan yang tidak terlihat.
Tidak mengherankan banyak tokoh besar memiliki kebiasaan yang tampak sederhana, Nabi Muhammad gemar berjalan kaki, Charles Darwin menghabiskan waktu berkeliling jalur kecil di halaman rumahnya setiap hari, Steve Jobs dikenal sering mengadakan walking meeting karena merasa ide mengalir lancar ketika tubuh bergerak dan pikiran tidak terkungkung oleh layar.
Kesamaan mereka bukan hanya terletka pada berjalan kaki, tetapi memberi ruang pada pikirannya untuk mengembara alias melamun.
Psikolog Jerome L. Singer, yang dikenal sebagai pelopor “melamun” berpendapat bahwa melamun bukanlah kebiasaan yang harus dihilangkan. Ia merupakan bagian alami dari kehidupan mental manusia. Dalam banyak kasus melamun membantu seseorang membangun imajinasi, merencanakan masa depan, memahami emosi, bahkan meningkatkan kemampuan memcahkan masalah.
Di era digital, kebiasaan melamun perlahan mulai menghilang meski saat berjalan kaki kita masih sering memakai earphone, menunggu kereta sambil membuka TikTok. Bahkan saat menikmati matahari terbenam, kita lebih sibuk mencari sudut kamera yang pas.
Barangkali itulah sebabnya banyak orang merasa lelah meski tidak melakukan pekerjaan berat dikarenakan otak terus-menerus menerima rangsangan tanpa pernah diberi kesempatan untuk diam.
Sebagaimana tubuh membutuhkan tidur untuk memulihkan tenaga, pikiran juga membutuhkan jeda untuk menyusun makna dari semua yang telah dialaminya.
Dan mungkin alasan mengapa kita merasa semakin sulit berpikir jernih bukan karena hidup terlalu rumit tetapi karena sudah terlalu lama tidak memberi kesempatan bagi otak untuk bekerja secara default.
Bisa jadi jawaban atas hidup yang selama ini kita cari tidak dalam video atau artikel, bisa jadi ia sedang menunggu di dalam keheningan yang selama ini kita hindari.
Manusia Menjadi Produk Digital
Sampailah manusia pada tahap menjadi sebuah produk digital. Tidak ada yang gratis di dunia ini, begitulah kata pepatah yang sampai saat ini masih relevan. Mungkin Aplikasinya gratis, mungkin artikelnya gratis, videonya gratis, semuanya bisa di scroll tanpa batas. Kita tidak membayar itu semua dengan uang tetapi kita membayarnya dengan sesuatu yang jauh lebih sulit dihitung: perhatian, sebuah komoditas baru di era digital.
Ekonom dan peraih Nobel Herbert A. Simon telah mengingatkan kita hal ini jauh sebelum internet menjadi bagian dari kehidupan. Pada tahun 1971 ia menulis
“A wealth of information creates a poverty of attention." — Herbert A. Simon
Dulu informasi itu langka kita harus membeli sebuah majalah atau koran untuk mengetahui sebuah berita. Kini informasi datang tanpa diminta yang menjadi langka justru kemampuan kita untuk memberi perhatian secara utuh.
Setiap hari kita berenang dilautan artikel, video, podcast unggahan media sosial hingga pesan WhatsApps. Masalahnya bukan lagi tentang mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya melainkan bagaimana kita memilih mana yang layak mendapatkan perhatian kita.
Sebab berbeda dengan informasi yang tak terbatas, perhatian kita sangat terbatas dan kita tidak bisa memperbanyaknya.
Ironinya semua aplikasi dirancang untuk kita bertahan selama mungkin di dalam mereka. Tidak ada halaman terakhir di Instagram, tidak ada video terakhir di TikTok, begitu satu video selesai, video lain sudah menunggu. Tanpa sadar kita hidup di dalam dunia yang hampir tidak pernah memiliki kata “cukup”.
fitur seperti autoplay, infinite scroll dan rekomendasi berbasis algortima telah dirancang agar kita tidak lagi memilih semuanya disajikan secara otomatis.
Dalam buku The Age of Surveillance Capitalism, Shoshana Zuboff menjelaskan bahwa banyak layanan digital modern tidak hanya menyediakan produk tetapi juga mengumpulkan data perilaku penggunanya untuk memprediksi bahkan memengaruhi tindakan manusianya.
Artinya setiap scroll setiap klik setiap jeda saat meilhat sebuah konten semuanya diolah menjadi informasi yang membantu algoritma mengenal kita lebih baik.
Semakin lama, semakin banyak dan semakin akurat aplikasi memprediksi apa yang akan membuat kita bertahan di dalamnya. Dari sinilah muncul lingkaran yang sulit diputuskan, perlahan kita tidak lagi memilih apa yang diinginkan ketika membuka aplikasi tetapi kita dipilih oleh apa yang kita ingin lihat berikutnya, inilah yang disebut dengan kita menjadi produknya.
Ide Hebat Lahir Justru Saat Melamun
Seringkali saat menulis gue mengalami kebuntuan, bahkan ketika sejam nonstop melihat layar laptop, menghapus kalimat, menulis lagi, lalu menghapusnya kembali. Semakin keras gue nyoba untuk menemukan kalimat yang tepat semakin terasa buntu.
Akhinya gue nyerah, kemudian membuat secangkir kopi, keluar rumah sambil menatap langit, dan boom kalimat yang gue cari tiba-tiba saja muncul.
Pengalaman seperti itu mungkin tidak hanya terjadi di gue. Solusi sebuah masalah mucnul saat mandi misalnya, ide bisnis datang saat menyetir. Bahkan terkadang jawaban yang kita cari muncul sesaat sebelum tidur.
Akhirny gue mengerti satu hal yaitu melamun bukan lawan dari berpikir. Ia tidak sama dengan tidak berpikir atau dianggap kemalasan. Melamun justru bagian alami dari cara manusia berpkir itu yang dikatan oleh psikolog Jerome L. Singer dalam penelitiannya tentang daydreaming. Pak Singer mengatakan bahwa melamun bukan berarti berhenti berpikir. Ia adalah bentuk berpikir yang tidak selalu terlihat, ketika perhatian kita tidak lagi dipengaruhi oleh rangsangan dari luar, pikiran mulai menghubungkan berbagai pengalaman yang sebelumnya tampak tidak berkaitan dan diam-diam menyusunnya agar sutu hari saat kita butuh jawaban kita menemukannya disaat yang tepat.
Dalam sejarah juga dikatakan bahwa kretativitas tidak selalu lahir di meja kerja. Konon Archimedes menemukan prinsip tentang gaya apung ketika sedang berendam di bak mandi. Isaac Newton mulai memikirkan gravitasi saat melihat apel jatuh dari pohon. Albert Einstein sering berjalan kaki sendirian untuk memberi ruang bagi pikirannya mengembara.
Meski keakuratan peristiwa itu masih menjadi perdebatan namun ada satu pola yang terus muncul: ide besar jarang lahir ketika otak penuh distraksi. Justru ide butuh ruang untuk lahir, dan ruang membutuhkan keheningan.
Ilmuan kognitif seperti John Kounios dan Mark Beeman, yang meneliti fenomena insight atau momen "aha!", menemukan bahwa solusi kreatif sering muncul setelah kita berhenti berusaha memecahkan masalah secara langsung.
Kita Telah Kehilangan Fokus, Bukan Waktu
Sebab dari kebiasaan gue yang terlanjur kecanduan ponsel, terkadang gue mikir seperti telah kehilangan banyak waktu. Namun setelah gue pikirin lagi mungkin bukan waktu yang hilang tetapi perhatian dan atau fokus.
Waktu kita sama-sama dua puluh empat jam sehari, berjalan engan kecepatan yang sama untuk semua orang tetapi perhatian tidak. Ia bisa pecah, berpindah, lelah, bahkan habis sebelum hari berakhir.
Gue salah mengukur dampak teknologi, mencoba menghitung berapa jam yang dihabiskan di depan layar, padahal kerusakan terbesar sering kali terjadi jauh sebelum hitungan itu terasa besar.
Perhatian tidak seperti sakelar lampu, ia tidak bisa begitu saja berpindah dari satu tugas ke tugas lain, ia kadang masih tertinggal pada aktivitas sebelumnya. Pikiran tidak langsung bersih begitu saja. Ia membawa sisa-sisa percakapan, gambar, notifikasi, atau video yang baru saja kita lihat.
Akibatnya meskipun tubuh sudah kembali duduk di depan pekerjaan, pikiran masih berjalan ke arah yang berbeda. Fenomena ini dikenal sebagai Attention Residue
Profesor Sophie Leroy dari University of Washington memperkenalkan konsep ini melalui penelitiannya tentang bagaimana pergantian tugas memengaruhi kualitas fokus. Ia menemukan bahwa ketika seseorang berpindah ke pekerjaan baru sebelum benar-benar melepaskan pekerjaan sebelumnya, sebagian perhatian tetap tertinggal. Sisa perhatian itu membuat kemampuan berpikir menjadi tidak sepenuhnya hadir pada tugas berikutnya.
Inilah alasan mengapa kita sering merasa sudah bekerja seharian tetapi hasilnya tidak seberapa bukan karena kita malas melainkan karena perhatian kita dipotong menjadi potongan-potongan kecil sepanjang hari.
Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi, melalui konsep Flow, menjelaskan bahwa manusia mengalami kualitas kerja terbaik ketika perhatian sepenuhnya menyatu dengan aktivitas yang sedang dilakukan. Dalam keadaan flow, seseorang tidak lagi sibuk memikirkan gangguan di luar dirinya. Waktu terasa mengalir, pekerjaan menjadi lebih bermakna, dan kreativitas meningkat.
Sayangnya, kondisi seperti itu sulit tercapai jika perhatian terus-menerus dipanggil ke arah yang berbeda.
Tidak heran jika hari ini kita semakin sering berkata, "Aku sulit fokus."
Digital Minimalism Bukan Hidup Primitif
Bagaimana caranya mengurangi screen time? Digital minimalism adalah jawabannya, menurut Newport sebuah filosofi penggunaan teknologi yang memfokuskan waktu daring hanya pada sedikit aktifitas yang dipilih secara sadar untuk membantu mendukung nilai hidup kita.
Jadi bukan hanya sekadar mengurangi screen time tetapi lebih kepada
"Untuk apa kita ingin mengurangi screen time itu?"
Karena tidak semua dampak media sosial itu buruk, ada sisi positifnya. Hubungan kita dengan teknologi harus diperjelas, teknologi adalah alat, bukan musuh. Nilai moralnya bergantung pada cara kita menggunakannya. Sama halnya dengan sebuah pisau bisa dipakai untuk memasak makanan oleh seorang koki atau melukai orang lain.
Masalah pada penggunaan teknologi muncul ketika itu mengubah kebiasaan kita, membuat kita kehilangan kendali atas teknologi. Misalnya seberapa sering kita membuka ponsel dengan kesadaran penuh? tidak banyak. Kebanyakan kita membuka ponsel secara refleks, otomatis. Bangun tidur membuka ponsel, saat makan siang, saat menunggu antrean bahkan saat sebelum tidur kita mengecek notifikasi semua itu telah menjadi kebiasaan.
Itulah sebabnya kadang kita memegang ponsel bahkan sebelum menyadari bahwa kita sedang mencarinya. Karena yang bekerja bukan lagi atas dasar keputusan melainkan kebiasaan.
Dalam bukunya Digital Minimalism, Cal Newport menawarkan pandagan yang menurut gue sangat menenangkan. Ia tidak pernah mengatakan bahwa kita harus membuang semua teknologi. Sebaliknya ia mengajak kita bertanya:
Apakah teknologi ini bernar-benar mendukung kehidupan yang ingin gue jalani?
Pertanyaan sederhana ini seringkali membutuhkan jawaban yang tidak selalu mudah, karena kita sudah terbiasa untuk bertanya apa aplikasi terbaru yang harus dicoba atau platform mana yang sedang populer? padahal yang jadi pertanyaan pentingnya adalah apakah kita butuh teknologi/media ini?
Newport juga menuliskan:
“Clutter is costly." — Cal Newport
Kekacauan yang ia maksud adalah terlalu banyak aplikasi yang kita instal, banyaknya akun yang kita ikuti, banyak video yang kita simpan untuk ditonton lain kali. Masing-masing tampak kecil namun jika dikumpulkan semuanya meminta satu hal yang sama dari kita: perhatian.
Digital minimalism tidak mengukur keberhasillan dari banyaknya aplokasi yangkita hapus tetapi lebih kepada mengukur apakah teknologi yang kita pakai dan instal benar-benar kita butuhkan dan memabntu kita?
Bisa jadi lo tetap menggunakan Instagram setiap hari karena pekerjaan lo memang bergantung pada platform itu. Tiada ada yang salah. Yang penting dalam setiap penggunaan teknologi adalah kita sadar mengambil keputusan dalam menggunakannya.
Seperti kata Filsuf Yunani Aristoteles dalam konsep golden mean menjelaskan bahwa kebajikan seringkali berada di antara dua ekstrem.
Barangkali kebijaksanaan tidak terletak pda menolak semua teknologi ataupun menerimanya tanpa batas. Kebijaksanaan lahir ketika kita mampu menemukan ukuran yang sesuai dengan nilai-nilai hidup kita sendiri.
Digital Minimalism ingin mengembalikan teknologi ketempatnya semula. Teknologi cukup menjadi alat, diambil ketika dibutuhkan dan diletakan kembali ketika tugasnya selesai.
Digital minimalism ingin kita memiliki kebebasan, kebebasan untuk memilih: memilih kapan ingin terhubung, memilih kapan ingin diam, memilih apa yang layak untuk mendapatkan perhatian penuh kita dan yang paling penting memilih untuk tetap hadir dalam hidup kita sendiri.
Karena pada akhirnya teknologi akan terus berkembang, semakin canggih dan otomatis, namun yang tidak boleh kita serahkan kepada siapapun adlah hak untuk menentukan bagaimana kita ingin menjalani hidup, itulah menurut gue makna dari digital minimalism.
Belajar Melamun Lagi
Setelah apa yang gue katakan panjang lebar di atas, gue mutusin buat melakukan satu hal—belajar melamun lagi. Belajar saat menunggu kopi diseduh melihat ke kiri dan ke kanan, belajar saat jam istrahat kerja digunakan untuk melamun dan membiarkan otak melanglang buana dengan sendirinya mengumpulkan pecahan-pecahan memori yang diperlukan mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan yang perlu ingatan yang tajam.
Mungkin besok pagi gue masih gagal dalam melamun, mungkin masih dengan kebiasaan membuka ponsel tanpa sadar tetapi satu hal bahwa gue setidaknya sekarang sadar bahwa yang selama ini hilang bukanlah waktu tetapi kemampuanku untuk menikmati jeda.
Gue mulai mencoba kembali kebiasaan lama yang telah terhapus oleh layar ponsel; minum kopi, menunggu hujan reda, melihat matahari terbenam, berjalan-jalan di taman dengan kesadaran penuh dan tanpa membuka ponsel.
Filsuf Tiongkok Lao Tzu pernah menulis dalam Tao Te Ching:
Nature does not hurry, yet everything is accomplished.
Alam tidak terburu-buru, pohon tidak tergesa-gesa untuk tumbuh, musim tidak saling mendahului. Semuanya berlangsung sebagaimana mestinya. Hadirlah di kehidupan yang sedang kita jalani ini.
The present moment is the only moment available to us, and it is the door to all moments. — Zen (Thich Nhat Hanh)
Barangkali digital minimalism bukan tentang hidup dengan layar yang lebih sedikit, tetapi tentang belajar menunggu lagi.
Glosarium:- Default mode network (DMN) adalah jaringan wilayah otak yang aktif saat seseorang beristirahat, melamun, atau tidak fokus pada dunia luar
- Newport, C. (2019). Digital Minimalism: Choosing a Focused Life in a Noisy World. Portfolio.
- Frankl, V. E. (1946/2006). Man's Search for Meaning. Beacon Press.
- Hari, J. (2022). Stolen Focus: Why You Can't Pay Attention—and How to Think Deeply Again. Crown.
- Rosa, H. (2013). Social Acceleration: A New Theory of Modernity. Columbia University Press.

Join the conversation