Kritik terhadap Growth Mindset: Solusi atau Masalah Baru?
Growth mindset menjanjikan pembebasan dari pola pikir tetap, tetapi kritik menunjukkan ia bisa berubah menjadi dogma baru yang menyalahkan individu atas kegagalan yang sebenarnya struktural.
Carol Dweck, psikolog Stanford, mengubah cara dunia memandang kegagalan ketika ia memperkenalkan konsep growth mindset pada 2006. Ia meyakinkan kita bahwa dengan pola pikir yang tepat, kita bisa tumbuh melalui kesulitan. Bertahanlah. Cobalah lebih keras. Jangan menyerah. Namun, di situlah jebakannya.
Berapa lama seseorang harus mencoba? Apa yang terjadi ketika seseorang dengan setia menerapkan prinsip growth mindset namun berulang kali gagal? Satu-satunya kepastian menjadi kehancuran psikologis: "Aku pasti tidak melakukan growth mindset dengan benar. Aku tidak cukup gigih. Aku tidak cukup baik."
Janji yang Terlalu Besar
Growth mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan intelektual dapat dikembangkan—berlawanan dengan fixed mindset yang memandang kemampuan sebagai bawaan yang tidak bisa diubah. Konsep ini telah menyebar ke sekolah-sekolah, perusahaan, dan bahkan kebijakan pendidikan di berbagai negara. Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Singapura secara aktif mempromosikan growth mindset sebagai solusi untuk berbagai persoalan pendidikan.
Namun, klaim Dweck bahwa mengubah keyakinan tentang pola pikir akan "memiliki efek mendalam" yang "meresap ke setiap bagian hidup kita" ternyata tidak didukung oleh bukti yang cukup kuat. Meta-analisis dari 316 studi sebelumnya menemukan bahwa korelasi antara pola pikir dan kesuksesan akademik sangat minimal. Brooke Macnamara, salah satu penulis studi tersebut, menyatakan bahwa meskipun ada "klaim yang sangat dibesar-besarkan," bukti menunjukkan bahwa "mengajarkan anak-anak untuk memiliki growth mindset" lebih seperti "dorongan kecil ke arah yang benar daripada obat mujarab yang mengubah hidup".
Review sistematis terbaru terhadap 24 studi eksperimen terkontrol menemukan bahwa studi-studi dengan kualitas terbaik menunjukkan efek nol atau sangat kecil—berkisar antara Cohen's d = -0.01 hingga +0.065. Review ini menyimpulkan bahwa tidak disarankan bagi sekolah atau pemerintah untuk mengalokasikan waktu dan sumber daya signifikan untuk implementasi intervensi growth mindset, karena hasil yang diharapkan kemungkinan besar nol atau sangat modest.
Efek Samping yang Tidak Diharapkan: Menyalahkan Korban
Kritik paling serius terhadap growth mindset bukanlah bahwa ia tidak bekerja—tetapi bahwa ia bisa menyakiti orang-orang yang paling rentan.
Penelitian menunjukkan bahwa induksi growth mindset justru meningkatkan blame (penyalahan) terhadap orang lain atas kesulitan intelektual mereka—dan juga meningkatkan self-blame (menyalahkan diri sendiri). Karena growth mindset menekankan bahwa kemampuan bersifat controllable (dapat dikendalikan), kegagalan kemudian dipandang sebagai konsekuensi dari kurangnya usaha—bukan sebagai akibat dari faktor struktural atau situasional yang berada di luar kendali individu.
Efek ini telah diobservasi dalam berbagai domain: obesitas, kecanduan, kemiskinan, penyakit, dan kesehatan mental. Ketika seseorang terus-menerus gagal menunjukkan empati, motivasi, atau kesehatan, mereka yang memiliki growth mindset cenderung lebih menyalahkan mereka daripada mereka yang memiliki fixed mindset.
Inilah ironi yang kejam: kerangka kerja yang dirancang untuk membebaskan kita dari pemikiran tetap justru menciptakan bentuk dogma baru. Kegagalan tidak lagi dipandang sebagai bagian dari hidup—ia menjadi kegagalan moral. Jika kamu gagal, itu karena kamu tidak cukup berusaha. Jika kamu tidak berhasil, itu karena mindset-mu salah.
Paradoks: Ketika Growth Berubah Menjadi Fixation
Sebuah analisis filosofis terhadap kerangka Dweck mengungkapkan bahwa growth mindset memiliki "jalan keluar" yang hilang—tidak ada mekanisme untuk menentukan kapan kegigihan telah berubah menjadi patologis.
Diagram alur growth mindset menunjukkan sesuatu yang mengkhawatirkan: sementara fixed mindset menyediakan jalur keluar ketika masalah tidak terselesaikan, growth mindset hanya menunjukkan lingkaran tanpa akhir:
Deteksi kesulitan
Kerjakan skenario
Periksa apakah terselesaikan
Jika tidak, kembali mengerjakan
Ulangi tanpa batas
Tidak ada jalan keluar kondisional. Tidak ada cara terstruktur untuk menentukan kapan kegigihan telah menjadi patologis. Model ini tanpa sadar meresepkan kegigihan tanpa batas tanpa mempertimbangkan apakah pendekatan itu berhasil, atau apakah tujuannya masih tepat.
Konsekuensi psikologisnya adalah double-bind yang tidak ada jalan keluarnya:
Jika mereka berhenti, mereka telah "gagal" memiliki growth mindset (kegagalan moral)
Jika mereka terus berjuang tanpa hasil, mereka mengalami kegagalan tanpa akhir (kegagalan praktis)
Ini menciptakan bentuk self-blame yang lebih merusak daripada apa yang pernah dihasilkan oleh fixed mindset. Dengan fixed mindset, seseorang mungkin berpikir, "Aku tidak pandai matematika." Dengan growth mindset yang terperangkap, mereka berpikir, "Aku gagal dalam cara berpikir yang seharusnya membuatku berhasil. Pasti ada sesuatu yang fundamental yang salah dengan pikiranku".
Dipersenjatai oleh Budaya Hustle
Di dunia kerja, growth mindset sering kali diadopsi menjadi bahasa perusahaan yang justru memperkuat eksploitasi. Konsep yang lahir di bidang psikologi dan pedagogi ini disederhanakan dan diubah menjadi keharusan: selalu dan dengan segala cara memiliki growth mindset.
Ketika growth mindset menjadi kewajiban, yang terjadi justru kebalikannya. Orang mulai berpura-pura memiliki pola pikir yang "benar" alih-alih benar-benar membangunnya. Mereka menghindari tantangan yang bisa membuat mereka terlalu terekspos. Mereka mengklaim menerima umpan balik, tetapi menelannya dalam diam. Mereka tampak antusias tentang perubahan, tetapi secara internal mengakumulasi kelelahan dan ketidakpercayaan.
Pesan eksplisitnya motivasional. Pesan implisitnya jauh lebih keras: jika kamu tidak mendapatkan hasil, jika kamu tidak berkembang, masalahnya ada padamu. Ini adalah bentuk baru dari hustle culture—bukan lagi bekerja lebih keras, tetapi bekerja lebih "dalam"—dengan beban yang sama-sama beratnya.
Pengakuan Dweck Sendiri
Yang menarik, Dweck sendiri telah mengakui banyak kritik ini. Ia mengakui bahwa "growth mindset bahkan lebih kompleks dari yang kami bayangkan" dan bahwa "pada awalnya, kami tidak mengenali kompleksitas implementasinya".
Dweck memperingatkan tentang "false growth mindset"—di mana guru dan manajer hanya menempel poster tentang growth mindset tanpa mengubah lingkungan yang sebenarnya. "Menempelkan poster tentang growth mindset di dinding kelas tidak membantu jika guru menciptakan lingkungan di mana anak-anak takut membuat kesalahan," katanya. "Lingkungan harus mendukung perubahan keyakinan dan perilaku yang menyertainya".
Ia juga menyatakan keprihatinannya tentang guru yang telah salah memahami karyanya dan sekarang mengomeli anak-anak, dan "mengomeli tidak pernah berhasil".
Penutup: Alat yang Berguna tetapi Tidak Lengkap
Kritik terhadap growth mindset bukanlah penolakan terhadap seluruh gagasan. Keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan adalah keyakinan yang membebaskan—dan pada tingkat individu, ia bisa menjadi pengingat yang berharga bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.
Namun, kerangka ini tidak lengkap. Ia tidak menyediakan mekanisme untuk mengenali kapan kegigihan telah berubah menjadi kekerasan kepala. Ia tidak mempertimbangkan faktor struktural—kualitas guru, akses sumber daya, ketidaksetaraan sistemik—yang sering kali lebih menentukan daripada pola pikir. Dan yang paling berbahaya, ia bisa berubah menjadi alat untuk menyalahkan korban—menempatkan tanggung jawab atas kegagalan pada individu, bukan pada sistem yang gagal mendukung mereka.
Seperti yang ditulis dalam sebuah analisis, masalahnya bukanlah bahwa growth mindset sepenuhnya salah. Masalahnya adalah ia terlalu sering dijual sebagai obat mujarab—padahal ia hanyalah salah satu alat dari sekian banyak yang dibutuhkan untuk pertumbuhan yang sejati.
Kebijaksanaan sejati terletak bukan pada memilih antara growth mindset atau fixed mindset, tetapi pada mengetahui kapan harus bertahan dan kapan harus melepaskan—dan pada mengakui bahwa kadang-kadang, kegagalan bukanlah tentang pola pikir kita, melainkan tentang dunia yang tidak memberi kita kesempatan.
- Chris Hildrew, "Growth mindset misconceptions and missteps," dalam Beyond a Growth Mindset (Taylor & Francis, 2025).
- "The Paradox of Carol Dweck's Mindset: When Growth Becomes Fixation," PhilArchive, 2025.
- "Effects of Induced Growth Mindset on Blaming," Journal of Experimental Psychology: General, 2027.
- "Professor Carol Dweck on growth mindset theory and her critics," Tes, 17 Oktober 2017.
- Carolina Gazmuri, "Can Growth Mindset Interventions Improve Academic Achievement? A Structured Review of the Existing Evidence," Review of Education, Vol. 13, No. 2 (2025).
- Charles DeLapa, "Mindset: Two Sizes Do Not Fit All," ERWC, 16 Oktober 2018.
- "Calibrating Growth Mindset About Intelligence: Increased Blame, Effort Misperception, and a Genes-and-Growth Solution for Blame," APA PsycNET.
- "Quando la cultura della crescita rischia di diventare una gabbia," Il Sole 24 ORE, 24 Februari 2026.
- "Growth Mindset: where did it go wrong?" Tes, 10 April 2020.

Join the conversation