Self Love: Mencintai Diri Sebelum Mencintai Dunia
Self love adalah kemampuan menerima diri sendiri dengan segala kekurangan—bukan keegoisan, melainkan fondasi untuk mencintai sesama dan menjalani hidup yang tenang.
Erich Fromm dalam The Art of Loving menulis, "Jika seseorang mampu mencintai secara produktif, ia mencintai dirinya sendiri; jika ia hanya mencintai orang lain, ia tidak bisa mencintai sama sekali." Cinta terhadap diri sendiri bukanlah dosa atau kelemahan, melainkan prasyarat untuk mencintai orang lain secara tulus. Tanpa kemampuan menerima dan menghargai diri sendiri, mustahil kita bisa memberikan cinta yang sehat kepada siapa pun.
Apa Itu Self Love?
Dr. Fahruddin Faiz, pengasuh Ngaji Filsafat di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta, mendefinisikan self love sebagai kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menerima dirinya sendiri, termasuk merasa puas dan bangga terhadap apa yang ada pada dirinya. Ini bukanlah sikap egois atau narsis—melainkan sebuah kewarasan alami manusia.
Dalam pandangannya, ada tiga kemampuan yang dituntut dalam cinta diri:
- Mampu menerima diri sendiri — mengakui kelebihan dan kekurangan tanpa menyalahkan atau menghakimi
- Puas dengan diri sendiri — tidak terus-menerus merasa kurang atau tidak cukup
- Bangga terhadap diri sendiri — menghargai perjalanan dan pencapaian yang telah diraih
Self love adalah upaya konfidensial dalam membangun persepsi positif terhadap diri sendiri. Kemampuan mencintai diri sendiri inilah yang mampu menangkal krisis identitas dan merawat rasa percaya diri seseorang.
Self Love vs. Egoisme: Perbedaan yang Sering Disalahpahami
Banyak orang keliru menyamakan self love dengan egoisme. Padahal, keduanya sangat berbeda.
Dr. Fahruddin Faiz menegaskan bahwa mencintai diri berbeda dengan sifat egoisme. Cinta diri melahirkan empati terhadap orang lain dan akan membentuk diri menjadi pribadi yang peduli. Sedangkan egoisme mementingkan diri sendiri dan menuntut orang lain menjalani hidupnya dengan cara yang sesuai, menguntungkan, atau menyenangkan kita.
Perbedaan mendasarnya terletak pada arah gerak cinta:
| Self Love | Egoisme |
|---|---|
| Diawali dari diri sendiri untuk sesama | Diawali dari diri sendiri untuk diri sendiri |
| Orang lain hadir untuk saling melengkapi | Orang lain hadir untuk memenuhi kebutuhan saya |
| Melahirkan empati dan kepedulian | Menuntut orang lain menyenangkan saya |
Sebagaimana dikatakan Fahruddin Faiz, "Cinta diri sendiri itu diawali dari diri sendiri untuk sesama. Kalau egoisme diawali dari diri sendiri untuk diri sendiri, orang lain hadir untuk memenuhi kebutuhanku, menyenangkanku, dan membahagiakanku."
Tanda-Tanda Seseorang Mencintai Dirinya Sendiri
Bagaimana kita tahu apakah seseorang benar-benar mencintai dirinya sendiri? Dr. Fahruddin Faiz menyampaikan bahwa tanda seseorang cinta pada dirinya sendiri diwujudkan dalam tiga hal:
1. Melihat Masa Lalu Tanpa Penyesalan
Orang yang mencintai dirinya sendiri senantiasa memafkan kesalahannya di masa lalu. Mereka tidak membiarkan penyesalan menggerogoti hari ini. Masa lalu sudah terjadi, sudah terukir dan tak bisa diubah, direvisi, apalagi dihapus. Yang bisa dilakukan adalah belajar dari kesalahan, lalu melangkah maju.
2. Melihat Hari Ini dengan Rasa Syukur
Mereka memandang hari ini sebagai anugerah yang harus disyukuri. Bukan dengan sikap "melangit" yang memaksa diri untuk meresapi setiap nikmat secara berlebihan, melainkan dengan kesadaran sederhana bahwa apa yang ada saat ini sudah cukup untuk disyukuri.
3. Melihat Masa Depan Tanpa Rasa Khawatir
Mereka tidak takut akan apa yang terjadi di masa depan. Kekhawatiran yang berlebih pada hal yang belum pasti terjadi hanya akan menarik diri berkubang rasa takut dan ragu untuk melangkah. Bukan berarti tidak merencanakan masa depan, tetapi tidak membiarkan kecemasan menguasai hari ini.
"Kalau kita memiliki kualitas ini maka akan tenang hidupnya," ujar Fahruddin Faiz.
Mengapa Self Love Itu Sulit?
Jika self love adalah kunci ketenangan, mengapa begitu banyak orang kesulitan mencintai dirinya sendiri?
Dr. Fahruddin Faiz menjelaskan bahwa self love sukar dilakukan karena adanya self-hatred mindset yang tertanam dalam benak. Pola pikir ini membuat kita:
- Selalu fokus pada hal-hal negatif saja
- Merasa harus "melangit" untuk dapat meresapi setiap nikmat dan anugerah Tuhan
- Berujung menjadi pecundang yang tak berani bermimpi
Kita luput menyadari bahwa setiap dari kita ini pastinya memiliki kekhasan yang definitif. Seperti kata Osho Rajneesh, diri kita ini unik karena hanya ada satu-satunya "kita" dan tidak akan pernah ada "kita" lagi di dunia ini.
Hidup kita menjadi gelisah karena kita sering memaksa diri untuk menjadi "sama" dengan yang lain, dengan cara menafikan kekhasan diri yang autentik ini. Kita membandingkan diri dengan orang lain, merasa tidak cukup, dan akhirnya membenci diri sendiri.
Self Love dalam Perspektif Islam
Dalam kajian Ngaji Filsafat, Fahruddin Faiz juga menghubungkan self love dengan ajaran Islam. Menurutnya, menyayangi diri sendiri itu sama dengan menyelamatkan diri dari azab Allah. "Kalau kita sayang pada diri kita, cinta diri kita, kita harus menjauhi diri kita dari murka Allah," jelasnya.
Ia mengutip pandangan Imam Al-Ghazali tentang empat jalan mencintai diri sendiri:
- Menjauhi dosa—menjaga diri dari hal-hal yang merusak
- Taubat — kembali kepada jalan yang benar jika terlanjur berbuat salah
- Melakukan amal saleh — mengisi hidup dengan kebaikan
- Ikhlas — melakukan segala sesuatu karena Allah, bukan karena pujian manusia
Dengan kata lain, mencintai diri sendiri dalam perspektif Islam bukanlah tentang memanjakan hawa nafsu, tetapi tentang menjaga diri agar selamat di dunia dan akhirat.
Penutup: Kembali ke Diri Sendiri
Self love bukanlah kemewahan—ia adalah kebutuhan. Tanpa kemampuan mencintai diri sendiri, kita akan terus-menerus merasa kurang, terus-menerus membandingkan, dan terus-menerus tidak bahagia.
Namun, self love juga bukan tentang menjadi egois atau narsis. Ia adalah tentang menerima diri apa adanya, bersyukur atas apa yang dimiliki, dan melepaskan penyesalan yang tidak perlu.
Kunci hidup tenang itu sederhana, seperti yang diajarkan Fahruddin Faiz:
Melihat masa lalu tanpa penyesalan, menjalani masa kini dengan rasa syukur, dan memandang masa depan tanpa kekhawatiran berlebih.
Mungkin hari ini kita masih sulit menerima diri. Mungkin kita masih sering membandingkan diri dengan orang lain. Mungkin kita masih terjebak dalam self-hatred mindset yang sudah lama tertanam.
Tapi kita bisa memulai dari sekarang. Dari hal kecil. Dari berhenti berkata kasar pada diri sendiri. Dari melihat ke cermin dan berkata, "Aku cukup. Aku berharga. Aku layak dicintai."
Karena pada akhirnya, seperti yang ditulis Erich Fromm, mencintai diri sendiri adalah prasyarat untuk mencintai orang lain. Dan tanpa cinta, hidup hanya akan menjadi perjalanan yang hampa.
- Dr. Fahruddin Faiz, M. Ag, Ngaji Filsafat 330: Self Love, Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta, 1 Desember 2021.
- "Sempat Terhenti, Ngaji Filsafat di Masjid Jenderal Sudirman Aktif Kembali," Langit7.id, 2 Desember 2021.
- Fahruddin Faiz, Menjaga Kewarasan, Menjaga Autentisitas Diri (Yogyakarta: MJS Press, 2023).
- Erich Fromm, The Art of Loving (New York: Harper & Row, 1956), sebagaimana dikutip dalam Menjaga Kewarasan.
- "Asyiknya Menyelami Self Love ala Fahrudin Faiz," Pikiran Rakyat Indramayu, 6 Juni 2022.

Join the conversation