Fokus Sejati Terletak di Antara Amarah dan Ketenangan
Ada satu kesalahpahaman yang sering kita pelihara sejak lama: kita mengira fokus adalah keadaan ketika pikiran benar-benar tenang. Kita membayangkan seseorang yang fokus sebagai manusia yang tidak terganggu emosi, tidak mudah marah, tidak mudah sedih, dan selalu mampu berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Padahal hidup tidak pernah memberi kemewahan seperti itu.
Manusia bekerja sambil membawa luka. Belajar sambil membawa kecemasan. Membangun mimpi sambil memikul kemarahan, kehilangan, dan harapan. Kita menjalani hidup dalam gelombang emosi yang terus berubah. Ada hari ketika kita begitu marah kepada dunia. Ada hari ketika semuanya terasa damai hingga kita kehilangan kewaspadaan.
Ironisnya, fokus justru paling mudah hilang pada dua keadaan yang bertolak belakang itu: ketika api di dalam diri terlalu besar, atau ketika semuanya terasa terlalu nyaman.
Mungkin karena itu fokus bukanlah lawan dari amarah, dan bukan pula saudara kandung ketenangan. Fokus adalah jembatan di antara keduanya.
Artikel ini bukan tentang cara menjadi lebih produktif. Ini adalah pengingat: ketika hidup sedang membakar kita, dan ketika hidup sedang meninabobokan kita, jangan kehilangan arah.
Fokus Sejati Terletak di Antara Amarah dan Ketenangan
Rage — Mengingat Amarah
"Be angry, but do not become your anger."
Setiap orang memiliki satu momen yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
Mungkin hari ketika diremehkan karena miskin. Hari ketika gagal mendapatkan pekerjaan. Hari ketika kehilangan seseorang. Hari ketika diperlakukan tidak adil. Hari ketika merasa hidup tidak berpihak.
Momen itu meninggalkan sesuatu: amarah.
Kita sering diajarkan untuk membuang amarah secepat mungkin. Seolah kemarahan selalu buruk. Padahal banyak perubahan besar dalam hidup manusia lahir dari ketidakpuasan terhadap keadaan.
Menurut Aristoteles, marah bukanlah masalah. Yang sulit adalah marah kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan tujuan yang tepat, dan dengan cara yang tepat. Di situlah kebijaksanaan dimulai.
Amarah adalah alarm moral. Ia memberi tahu bahwa ada sesuatu yang terasa salah.
Banyak orang mulai belajar lebih keras karena pernah dipermalukan.
Banyak orang bekerja tanpa lelah karena pernah hidup dalam kekurangan.
Banyak orang memperjuangkan keadilan karena pernah merasakan ketidakadilan.
Di belakang mimpi, sering kali ada luka yang belum selesai.
Amarah adalah bahan bakar, bukan kemudi
Menurut Seneca dalam On Anger, kemarahan adalah emosi yang paling cepat mengambil alih akal jika dibiarkan tumbuh tanpa kendali. Api yang awalnya menghangatkan dapat berubah menjadi kebakaran.
Di sinilah fokus menjadi rapuh.
Ketika sedang marah, perhatian kita menyempit. Kita hanya melihat siapa yang salah. Kita ingin membalas, membuktikan, memenangkan pertengkaran, atau menghukum seseorang.
Fokus bergeser.
Tujuan berubah menjadi pelampiasan.
Padahal yang kita perjuangkan mungkin bukan kemenangan dalam pertengkaran itu, melainkan kehidupan yang lebih baik.
Menurut James Gross, psikolog Stanford yang meneliti regulasi emosi, emosi menjadi sehat ketika ia membantu tindakan yang sesuai dengan nilai kita, bukan menggantikan nilai itu sendiri.
Maka ketika marah, jangan buru-buru memadamkan api.
Pegang apinya.
Tanyakan:
"Mengapa aku begitu marah?"
Karena jawaban dari pertanyaan itu sering kali lebih penting daripada kemarahannya sendiri.
Ingat amarahmu, tetapi jangan tinggal di sana
Ada alasan mengapa artikel ini memakai kata mengingat amarah, bukan memelihara amarah.
Kita perlu mengingat rasa sakit yang pernah membangunkan kita. Mengingat bagaimana rasanya diperlakukan tidak adil. Mengingat janji yang pernah kita buat kepada diri sendiri: aku tidak ingin kembali ke kehidupan itu.
Tetapi kita tidak hidup untuk membalas masa lalu.
Amarah cukup menjadi pengingat mengapa kita berjalan.
Bukan alasan untuk terus hidup dalam kebencian.
Ketenangan — Mendinginkan Api
"Api memang harus menyala. Tetapi rumah tidak dibangun dengan kebakaran."
Setelah manusia belajar menggunakan amarah sebagai energi, ia membutuhkan sesuatu yang lebih sulit: ketenangan.
Ketenangan sering disalahartikan sebagai tidak melakukan apa-apa.
Padahal ketenangan bukan diam.
Ketenangan adalah kemampuan menjaga pikiran tetap jernih ketika emosi sedang berisik.
Menurut Epictetus, manusia tidak diganggu oleh peristiwa, tetapi oleh penilaiannya terhadap peristiwa tersebut. Dunia tidak selalu bisa dikendalikan. Cara kita meresponsnya masih bisa dipilih.
Di sinilah api mulai mendingin.
Ketenangan membuat kita melihat lebih jauh
Ketika emosi mereda, kita mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat.
Bahwa tidak semua kritik harus dijawab.
Tidak semua hinaan harus dibalas.
Tidak semua pertarungan layak dimenangkan.
Marcus Aurelius menulis dalam Meditations bahwa kekuatan terbesar manusia adalah menguasai pikirannya sendiri, bukan menguasai keadaan di luar dirinya.
Serenity bukan berarti kehilangan keberanian.
Serenity memberi keberanian bentuk yang lebih dewasa.
Tetapi ketenangan juga memiliki jebakan
Ini bagian yang jarang dibicarakan.
Ketenangan yang terlalu lama dapat berubah menjadi kenyamanan.
Dan kenyamanan dapat berubah menjadi kelalaian.
Ketika semuanya terasa baik-baik saja, kita berhenti bertanya apakah kita masih berjalan menuju tujuan yang benar.
Kita berhenti belajar karena merasa sudah cukup.
Kita berhenti memperjuangkan sesuatu karena hidup terasa aman.
Kita berhenti bermimpi karena rutinitas terasa nyaman.
Api padam.
Bukan karena sudah selesai.
Tetapi karena kita tertidur.
Fokus juga mudah hilang ketika hidup terlalu tenang
Ada jenis kehilangan fokus yang lebih halus daripada kemarahan.
Ia datang dalam bentuk kenyamanan.
Hari-hari yang sama.
Pekerjaan yang sama.
Gaji yang sama.
Kebiasaan yang sama.
Tidak ada konflik.
Tidak ada tantangan.
Tidak ada rasa mendesak.
Lalu perlahan kita hidup menggunakan autopilot.
Menurut William James, perhatian menentukan pengalaman manusia. Apa yang terus kita perhatikan akan membentuk hidup kita.
Masalahnya, kenyamanan membuat perhatian kita mengendur.
Kita sibuk menjalani hidup tanpa lagi memeriksa arahnya.
Maka ketenangan juga perlu dijaga.
Jangan sampai ia berubah menjadi tidur panjang yang kita sebut kedamaian.
Fokus Sejati Ada di Antara Amarah dan Ketenangan
"Fokus sejati bukan berada di salah satu sisi. Ia lahir di ruang tengah."
Bayangkan seseorang berdiri di antara dua kutub.
Di sebelah kiri ada amarah yang membara.
Di sebelah kanan ada ketenangan yang menenangkan.
Jika ia terlalu dekat pada amarah, ia terbakar.
Jika ia terlalu dekat pada ketenangan, ia terlena.
Fokus adalah langkah yang terus menjaga jarak dari keduanya.
Charles Xavier dan Magneto: Pelajaran tentang ruang tengah
Ada satu adegan yang menurut saya menggambarkan artikel ini dengan indah.
Dalam X-Men: First Class, Charles Xavier membantu Erik Lehnsherr (Magneto) mengendalikan kekuatannya. Erik selalu mengakses kekuatannya melalui kemarahan dan rasa kehilangan.
Charles berkata kepadanya:
"Rage can only take you so far."
Lalu ia mengajak Erik mengingat hal lain selain rasa sakit: kenangan tentang ibunya, tentang cinta, tentang kedamaian. Charles ingin Erik menemukan tempat di antara penderitaan dan ketenangan.
Bukan menghapus amarah.
Bukan menghapus cinta.
Tetapi menggunakan keduanya tanpa dikuasai salah satunya.
Itulah ruang tengah.
Dan justru di ruang itulah kekuatan Magneto menjadi lebih besar dan lebih terkendali.
Pelajaran itu terasa sangat manusiawi.
Kita semua memiliki "Magneto" di dalam diri: bagian diri yang ingin bergerak karena marah.
Kita juga membutuhkan "Charles Xavier": bagian diri yang mengingatkan bahwa kekuatan tanpa kendali akan menghancurkan pemiliknya.
Fokus adalah ruang memilih
Menurut Viktor Frankl, selalu ada ruang antara stimulus dan respons. Di ruang itulah manusia memiliki kebebasan memilih.
Ruang itu adalah fokus.
Fokus bukan keadaan tanpa emosi.
Fokus adalah kemampuan memberi jeda.
Jeda sebelum membalas pesan ketika sedang marah.
Jeda sebelum menyerah ketika sedang sedih.
Jeda sebelum terlena ketika sedang bahagia.
Jeda sebelum mengambil keputusan ketika ego sedang berbicara.
Semakin besar jeda itu, semakin besar kebebasan kita.
Ketika hidup berubah, fokus tetap tinggal
Akan ada hari ketika kita marah.
Gunakan amarah untuk mengingat alasanmu.
Akan ada hari ketika hidup terasa damai.
Gunakan ketenangan untuk melihat arahmu.
Akan ada hari ketika keduanya datang bersamaan.
Saat itulah fokus benar-benar dibutuhkan.
Karena fokus bukan soal mempertahankan satu emosi.
Fokus adalah mempertahankan satu tujuan.
Penutup — Jadilah Penjaga Arahmu Sendiri
Mungkin hidup tidak pernah meminta kita menjadi manusia yang selalu tenang.
Dan mungkin hidup juga tidak meminta kita berhenti marah.
Yang diminta hidup adalah sesuatu yang lebih sulit: mengetahui kapan amarah harus dinyalakan, kapan ketenangan harus dihadirkan, dan kapan keduanya harus memberi jalan kepada fokus.
Ada kalanya amarah menjadi cahaya yang menunjukkan apa yang salah.
Ada kalanya ketenangan menjadi cahaya yang menunjukkan apa yang penting.
Tetapi hanya fokus yang menunjukkan ke mana kita harus berjalan.
Sebab manusia akan melewati banyak musim: sedih, bahagia, kecewa, jatuh, berhasil, kehilangan, dan mencintai. Perasaan akan terus berubah, tetapi arah tidak boleh ikut berubah setiap kali hati berubah.
Jadi ketika suatu hari hidup terasa membakar, ingatlah amarahmu tanpa menjadi budaknya.
Ketika hidup terasa terlalu nyaman, ingatlah tujuanmu tanpa kehilangan kedamaian.
Dan ketika keduanya menarikmu ke dua sisi yang berlawanan, berdirilah di ruang tengah.
Di sanalah fokus sejati berada.
Glosarium:- Fokus /fo·kus/ n pusat, titik pusat perhatian, atau pemusatan pikiran dan perhatian pada suatu hal, tugas, maupun tujuan tanpa terganggu oleh hal lain
- Aristotle. (2009). Nicomachean Ethics (W. D. Ross, Trans.; L. Brown, Ed.). Oxford University Press.
- Aurelius, M. (2002). Meditations (G. Hays, Trans.). Modern Library.
- Epictetus. (2008). Enchiridion and Selections from the Discourses (G. Long, Trans.). Dover Publications.
- Frankl, V. E. (2006). Man's Search for Meaning. Beacon Press.
- Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299.
- James, W. (1890). The Principles of Psychology. Henry Holt and Company.
- Seneca. (2010). On Anger (R. A. Kaster & M. C. Nussbaum, Trans.). University of Chicago Press.

Join the conversation