Bergabunglah di grup telegram Urie Join now

Allah Memanggilmu Khalifah, Kenapa Kamu Merendahkan Dirimu Sendiri?

Manusia dipanggil Allah sebagai khalifah, tapi sering merendahkan diri lewat mindset kerja dan label hidup. Ini dampaknya menurut Islam & psikologi

Pejuang rupiah, budak korporat, hidup bagai kuda adalah julukan-julukan yang sering dilabelkan pada diri kita padahal Allah telah memberi kita julukan yang amat mulia ‘Khalifah di muka bumi’.

Julukan-julukan tersebut terdengar heroik seolah menunjukan tanggungjawab dan pengorbanan namun ternyata secara tidak sadar menurunkan martabat manusia dan berdampak besar dalam hidupnya.

Sekarang mari kita ambil nafas yang dalam dan sedikit bertanya:

Apakah ini benar-benar cara terbaik memandang diri kita sendiri?

Karena jika kita mundur sedikit dan melihat dari sudut pandang yang lebih tinggi, ada satu fakta yang sering terlupakan:

Allah sendiri memberi manusia gelar yang jauh lebih mulia daripada semua julukan itu.

Allah memanggil manusia Khalifah di muka bumi.

Manusia khalifah di muka bumi

Khalifah, Gelar Agung Manusia di Muka Bumi

Dalam Al-Qur’an QS. Al-Baqarah ayat 30, Allah menyampaikan kepada para malaikat bahwa Dia hendak menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Gelar ini bukan simbol kosong, melainkan mandat besar.

Menurut tafsir Ibnu Katsir, khalifah berarti makhluk yang:

  • diberi amanah,
  • diberi akal dan kehendak,
  • bertugas mengelola dan memperbaiki bumi.

Artinya, sejak awal manusia diposisikan sebagai subjek kehidupan, bukan korban keadaan.

Martabat Manusia yang Dilupakan

QS. Al-Isra ayat 70, Allah menegaskan bahwa manusia telah dimuliakan sebelum bicara soal profesi, status, atau capaian ekonomi.

Menurut Uriepedia, masalah utama manusia modern bukan kurang motivasi, tapi kehilangan kesadaran akan martabat dirinya sendiri. Ketika manusia lupa bahwa ia khalifah, hidupnya mudah direduksi hanya menjadi soal uang dan tuntutan.

Fenomena Julukan Rendah di Dunia Modern

Masyarakat modern terkadang tanpa sadar menempelkan julukan-julukan remeh-temeh hanya karena terdengar masuk akal dan sesuai dengan kondisi yang dihadapinya, tanpa sadar identitas dirinya yang sesungguhnya. 

Julukan Pejuang Rupiah dan Normalisasi Kelelahan

Menurut psikologi sosial, bahasa yang kita gunakan membentuk identitas dan perilaku. Ketika seseorang terus menyebut dirinya “pejuang rupiah”, ia tanpa sadar sedang menanamkan narasi bahwa hidupnya hanya soal bertahan.

Menurut riset Stanford University tentang self-labeling, individu cenderung bertindak sesuai dengan label yang ia ulang tentang dirinya. Label sempit menciptakan hidup yang sempit.

Dari sini kita paham kenapa:

kelelahan dianggap wajar,

burnout dianggap kurang iman,

istirahat dianggap malas.

Julukan Budak Korporat

Istilah “Budak korporat” sering dipakai sebagai candaan. Tapi dibalik kelakar itu, ada realitas pahit yang jarang dibicarakan secara jujur.

Manusia bekerja dari pagi sampai malam, hidupnya diatur target, KPI dan jam kerja, namun perlahan kehilangan kendali atas beberapa hal penting yaitu; waktu, Kesehatan fisik dan mental, serta bahkan cara memandang dirinya sendiri.

Fenomena ini disebut dengan burnout yang menurut World Health Organization (WHO), fenomena burnout modern banyak dipicu oleh sistem kerja yang memperlakukan manusia sebagai sumber daya, bukan sebagai individu bermartabat. Dalam laporan WHO tahun 2019, burnout dikaitkan langsung dengan stres kerja kronis yang tidak dikelola secara manusiawi.

Masalahnya, banyak orang tidak merasa ini masalah. Mereka justru bangga dengan identitas baru itu:

Namanya juga budak korporat.

Kalimat ini terdengar santai, tapi dampaknya serius. Ia menormalisasi kondisi di mana manusia rela merendahkan dirinya sendiri demi bertahan dalam sistem.

Identitas Diri Menurut Psikologi Modern

Menurut Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, konsep diri (self-concept) menentukan bagaimana seseorang mengambil keputusan dan memaknai hidup.

Jika seseorang melihat dirinya:

  • hanya sebagai pencari uang,
  • hanya sebagai alat nafkah,

maka ia akan:

  • menoleransi eksploitasi,
  • sulit berkata tidak,
  • merasa bersalah saat ingin hidup lebih seimbang.

Menurut penelitian Harvard University pada tahun 2019 tentang human flourishing, manusia dengan identitas bermakna memiliki kesehatan mental lebih baik, bahkan ketika penghasilannya biasa saja.

Khalifah Itu Bekerja, Tapi Tidak Kehilangan Diri

Menjadi khalifah bukan berarti hidup santai tanpa tanggung jawab.

Sebaliknya, khalifah justru bekerja dengan penuh kesadaran.

Bedanya:

  • Ia tahu kapan bekerja, kapan berhenti
  • Ia tahu uang itu alat, bukan identitas
  • Ia tahu lelah itu manusiawi, tapi merusak diri itu bukan ibadah

Khalifah tidak menjadikan penderitaan sebagai lencana kehormatan.

Ia menjadikan amanah dan nilai sebagai kompas hidup.

Mengganti Narasi, Mengembalikan Martabat

Mungkin kita tidak bisa langsung mengubah dunia.

Tapi kita bisa mulai dari satu hal sederhana: cara kita menyebut diri sendiri.

Bukan lagi:

“Saya cuma pejuang rupiah.”

Tapi:

“Saya manusia yang bekerja menjalankan amanah.”

Bukan lagi:

“Hidup saya begini-begini saja.”

Tapi:

“Saya khalifah yang sedang berproses.”

Narasi baru ini tidak membuat kita malas.

Justru membuat kita lebih sadar, lebih bertanggung jawab, dan lebih berani menjaga diri.

Penutup: Ingat Julukanmu

Allah tidak pernah memanggil manusia dengan julukan hina.

Yang sering merendahkan manusia adalah manusia itu sendiri.

Kita boleh lelah.

Kita boleh jatuh.

Kita boleh sedang berjuang.

Tapi jangan sampai lupa satu hal penting:

Yang sedang lelah itu khalifah.

Yang sedang berjuang itu makhluk mulia.

Bukan budak kehidupan, bukan sekadar pejuang rupiah.

Allah sudah memanggilmu dengan gelar yang tinggi.

Sekarang pertanyaannya tinggal satu:

kenapa kamu memilih memanggil dirimu dengan yang lebih rendah?

Referensi:
  1. Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 30; QS. Al-Isra: 70)
  2. World Health Organization (2019), Burnout Syndrome
  3. Stanford University, Self-Labeling & Identity Research
  4. Harvard University (2019), Human Flourishing Program
  5. American Psychological Association (APA)
  6. Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning
Penulis Uriepedia yang mengulas kesehatan mental, krisis identitas, dan pengembangan diri dengan pendekatan psikologi & filsafat.