Tips Mengembalikan Uang atau Barang yang Telah Lama Dipinjam
Seringkali barang atau uang yang tidak dikembalikan dalam waktu yang lama membuat hubungan dengan seseorang menjadi renggang, itulah sebabnya mengembalikan barang yang telah lama dipinjam sangat penting—bukan hanya mengembalikan barang atau uang yang dipinjam tetapi juga mengembalikan hubungan—lebih daripada itu kehormatan dan kepercayaan.
Menurut Kementerian Keuangan RI, kepercayaan finansial dalam hubungan antarindividu memengaruhi stabilitas sosial dan kecendrungan untuk bekerja sama
Sederhananya; kalua pinjam tapi tak Kembali, yang rusak bukan Cuma dompet—tapi juga reputasi (kehormatan).
Tips Mengembalikan Pinjaman dengan Benar
Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan, berdasarkan riset, sopan santun sosial, dan pendekatan komunikatif yang terbukti efektif.
1. Mulai dengan Mengakui Keterlambatan
Langkah pertama dalam mengembalikan pinjaman adalah dengan mengakui kesalahan dan keterlambatan kepada si peminjam. Berikan penjelasan singkat dan jangan beralasan atau alibi yang Panjang.
Menurut Universitas Indonesia (UI), masalah uang sering menjadi sumber konflik interpersonal, bahkan pada teman dekat. Sederhananya masalah kecil bisa berubah besar kalau dibiarkan terlalu lama.
Jika demikian maka mengakui kesalahan dan keterlambatan adalah Langkah pertama yang tepat untuk dilakukan.
Menurut Universuty of California, Berkeley, pengakuan kesalahan yang tulus meningkatkan empati dan mengurangi resistensi dalam komunikasi interpersonal.
Daripada mengatakan,
“Kemarin ada beberapa pengeluaran mendadak”, atau “uangnya aku pakai untuk bayar cicilan dahulu” yang mana akan membuat orang yang dihutangi (kreditur) merasa tidak dihargai lebih baik mengatakan;
“Saya minta maaf karena sangat terlambat dalam mengembalikan pinjaman, saya akui saya salah”
Menurut Uriepedia, banyak hubungan rusak bukan karena telat membayar, tapi karena tidak ada komunikasi, selain itu pengakuan jujur di awal membuat lawan bicara merasa dihargai.
2. Kembalikan Lebih Baik dari yang Dipinjam
Saudaraku yang muslim mungkin akan berpikir; bukankah ini riba?. Menambahkan sesuatu adalah bentuk terimakasih kita terhadap orang yang memberi utang, selama sipemberi utang (kreditur) tidak menuntut untuk dilebihkan.
Menurut Bank Indonesia, praktik memberi “pengganti ketidaknyamanan” dianggap sebagai bentuk etika keuangan yang wajar selama tidak tidak mengandung unsur riba.
Menurut Buya Yahya dalam salah satu videonya mengatakan dua pendapat, pendapat pertama adalah mebayar utang sesuai dengan nominal yang dipinjam, pendapat kedua adalah jika penurunan nilainya lebih dari dua per tiga atau hampir seratus persen maka boleh memberi lebih dengan niat balas budi dan tanpa ada tuntutan dari kreditur.
3. Sampaikan Lewat Media yang Tepat
Bila hubungan dengan kreditur telah retak cukup lama, alih-alih menghubunginya secara langsung dengan perasaan tak bersalah lebih baik sedikit memutar dengan menggunakan media yang tepat.
Misalnya jika kita memiliki kontak saudara atau orang tua kreditur kita bisa menghubungi mereka terlebih dahulu untuk menyampaikan maksud dan tujuan kita. Hal ini utnuk menghindari kesalahpahaman lebih lanjut antara debitur dan kreditur.
Menurut Uriepedia, menggunakan relasi atau media yang tepat secara tersirat memberi tahu kreditur bahwa kita memiliki niat baik untuk memngembalikan pinjaman yang telah lama dipinjam.
4. Jangan Mengulangi kesalahan yang Sama
Meskipun kemungkinan besar kreditur tidak akan memberikan pinjaman lagi untuk debitur yang lama dalam mengembalikan utang, terkadang kreditur masih mempertimbangkan hubungan pertemanan, kekeluargaan, atau permintaan maaf yang telah di sampaikan terakhir kali—sehingga kreditur dengan terpaksa dan penuh harap kita akan bisa mengembalikan utang tepat pada waktunya.
Jika demikian maka dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati seorang debitur tidak boleh mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya dan dengan penuh tanggung jawab membayar utang tepat pada waktunya.
Tabel Ringkas Strategi Harmonis
| Masalah | Pendekatan | Hasil |
|---|---|---|
| Terlambat mengembalikan | Akui + jelaskan singkat | Suasana lebih cair |
| Barang/uang lama tak kembali | Kembalikan dalam kondisi lebih baik | Rasa dihargai meningkat |
| Hubungan renggang | Pesan personal + transparansi | Kembali harmonis |
| Sulit mulai pembicaraan | Minta bantuan pihak ketiga | Menghilangkan kecanggungan |
Kesimpulan
Memiliki niat untuk mengembalikan uang atau barang yang lama dipinjam sudah merupakan perwujudan dari mengembalikan kehormatan dan kepercayaan diri yang hilang. Dengan cara yang benar, hubungan dengan kreditur bisa kembali menjadi harmonis.
Mulailah dengan jujur, komunikatif, dan tulus.
Tambahkan sedikit sentuhan manusiawi—dan hubungan bisa kembali hangat seperti semula.
Ingat kalimat ini:
Hubungan yang baik tidak dibangun dari kesempurnaan, tetapi dari niat memperbaiki kesalahan.
Punya pengalaman soal pinjam-meminjam? Ceritakan di komentar!
Bagikan artikel ini kalau menurutmu banyak yang butuh insight ini.
Referensi
- Kementerian Keuangan RI, Laporan Stabilitas Sosial 2023
- Universitas Indonesia, Jurnal Hubungan Antar Manusia
- Harvard Business Review, Interpersonal Communication Research
- MIT Media Lab, Digital Tone Studies
- OJK, Etika dan Transparansi Finansial 2022
- UGM, Riset Komunikasi 2023
- Kominfo RI, Survei Komunikasi Digital 2023
- Cara Membayar Hutang Lama dengan Nilai Uang yang Sudah Berbeda | https://youtu.be/Q28MhUAaAv8?si=gaqzsYy_dfevlyAl

Join the conversation